GROJOGAN SEWU - TAWANGMANGU

Malam 30 September, aku pergi menyusul suamiku yang sudah pergi ke salatiga terlebih dahulu beberapa hari sebelumnya. Jam 19.45 aku memesan gojek dengan tujuan stasiun pasar senen.  Tiket kereta senja utama solo telah aku beli sebulan sebelum tanggal keberangkatan dengan harga 235.000, harga yang termurah yang masih bisa aku dapatkan untuk kereta kelas bisnis jurusan solo. Kereta berangkat jam 22.00 sesuai dengan jadwalnya dan tiba di stasiun solo balapan jam 07.02 telat 4 menit dari jadwal seharusnya yaitu jam 06.58, masih termasuk ontime bagiku. Terus maju kereta api indonesia dan tingkatkan pelayanan kalian. Suamiku telah menjemput di stasiun solo balapan lalu kami menuju terminal bis tirtonadi dengan naik becak seharga 15.000, harga ini sebenarnya sudah kami tawar dari 20.000 tapi akhirnya kami tetap memberikan 20.000 untuk si bapak. 

Dari terminal tirtonadi, kami naik bis jurusan tawangmangu yaitu bis langsung jaya dengan harga 24.000 untuk 2 orang. Perjalanan dari solo ke tawangmangu kurang lebih sekitar 1,5 jam dengan jalan yang berkelok-kelok dan terus menanjak serta kanan kiri dihiasi pemandangan persawahan yang hijau. Setibanya di terminal bis tawangmangu perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan angkutan umum sejenis colt dengan harga 10.000 perorang diantar sampai kawasan wisata grojogan sewu. Kami pun segera cari sarapan dan warung pertama yang kami lihat disitulah kami makan. Kami berdua, akhirnya memilih nasi soto dengan harga per porsi hanya 6000 rupiah. Harga yang murah, tentu saja dengan harga yang murah tersebut yang terlihat hanya nasi yang banyak sedangkan untuk toge, soun dan dagingnya sedikit sekali tapi untuk rasa enak, ya kuah sotonya yang enak. Total sarapan pagi itu hanya 34.000 rupiah dengan 3 porsi nasi soto, 2 gelas jus strawberry, 1 gelas teh manis hangat dan 6 buah kerupuk kampung. 

Perjalanan pun dilanjutkan menuju ke grojogan sewu dan kami pun minta ijin ke pemilik warung akan niat kami untuk menitipkan tas ransel dan alhamdulillah disambut sangat baik oleh ibu si pemilik warung. Harga tiket masuk ke grojogan sewu adalah 12.500 per orang pada hari biasa. Harga 12.500 terdiri dari 2 tiket, tanpa aku baca terlebih dahulu langsung aku berikan 2 tiket tersebut ke penjaga pintu masuk dan aku tidak mendapatkan sobekkannya sama sekali. Dari 2 tiket tersebut, yang sempat terlihat dari salah satu tiket tersebut tertulis 7.500 rupiah lalu yang satunya tiket apa. "Sudahlah", kataku kepada suamiku dan kami pun melanjutkan perjalanan menyusuri anak tangga menuju grojogan sewu. 








Ketika menyusuri anak tangga, kami melihat sebuah kolam renang dengan air yang bening sekali, sempat terbersit untuk berenang di situ tapi apa daya tas ransel telah kami titipkan. Dari situ aku mulai menduga-duga, jangan-jangan tiket yang 5.000 itu adalah tiket masuk kolam renang karena harga yang tercantum di loket di depan kolam renang juga 5.000 tapi ini sepertinya kolam renang anak-anak. Aku pun hanya bergumam dalam hati, buat pengalaman aja agar lebih teliti dalam segala hal. Bagi yang ingin berkunjung ke Grojogan Sewu jangan pernah membawa kantung kresek karena akan direbut oleh para monyet. Jika hanya dirampas oleh sang monyet mungkin tidak terlalu bermasalah tapi jika sampai digigit, itulah salah satu kejadian yang dilihat oleh suamiku di sana. Dia melihat seorang lelaki yang membawa kantong kresek dan tangannya langsung digigit oleh salah satu monyet tersebut. Aku sendiri melihat bagaimana seorang perempuan lari menjauh dari kantong kresek yang dia bawa karena didatangi oleh seekor monyet. Hampir saja aku pun membawa kantong kresek yang berisi roti dan air mineral, untungnya diberitahu oleh ibu pemilik warung untuk tidak membawanya.















 




Puas explore grojogan sewu, kami kembali ke warung makan, tempat kami menitipkan tas dan aku kembali makan siang dengan menu 1 porsi sate kelinci, 1 es teh manis dan 1 jus strawberry dengan total harga Rp.22.000. Pertama kali merasakan sate kelinci ternyata daging kelinci rasanya mirip dengan daging ayam dan sate kelinci yang disajikan tidak ada lemak dan kulit sebagaimana sebagaimana rata-rata sate ayam dijual. Sambil makan, ibu pemilik warung menanyakan kami, mengenai keinginan kami untuk ojek motor ke Telaga Sarangan. Kami pun mengiyakan dan sepakat dengan harga ojek motor Rp.50.000 per orang oneway.




bersambung

MADINAH CITY TOUR - MASJID QUBA DAN PERKEBUNAN KURMA

Previous Post Masjid Nabawi & Raudhoh

Akhirnya tiba waktunya untuk melakukan city tour di kota Madinah. Selesai sarapan pagi, kami diminta untuk segera menuju bis yang sudah parkir di samping penginapan. Sedikit review makanan di penginapan selama Madinah, secara keseluruhan rasanya sesuai lidah indonesia....bisa dibilang enak walaupun menu yang tersedia cukup sederhana. Buah yang disediakan sebagai desert seringnya adalah apel dan pear dalam bentuk utuh tapi tidak disediakan pisau untuk memudahkan kami untuk memakannya. Walhasil aku pun memakannya langsung digragot......hahahaha bahasa apa ini tapi ada beberapa teman yang tidak memakan buah-buahan tersebut sehabis makan karena tidak disediakannya pisau. Mereka mengumpulkan buah-buahan tersebut dan jadilah salah satu oleh-oleh yang dibawa pulang ke tanah air.....hehehe......Mari kembali ke topik. Setelah seluruh jamaah sudah kumpul di dalam bis, perjalanan pun dimulai dan tujuan pertama adalah Masjid Quba.


MASJID QUBA
Masjid ini merupakan masjid yang pertama kali didirikan oleh Rasulullah SAW dalam perjalanan hijrah ke kota Madinah pada tahun 1 hijriah atau 622 Masehi. Masjid Quba ini terletak sekitar 5km dari pusat kota Madinah. Masjid ini didirikan di kampung Quba, saat itu salah seorang sahabat Nabi yaitu Sayyidina 'Ammar Radhiyallahu 'anhu mengusulkan untuk membangun tempat peristirahatan untuk baginda Nabi Muhamad SAW dan melaksanakan shalat dengan tenang. Sayyidina 'Ammar Radhiyallahu 'anhu pun mulai mengumpulkan batu-batu untuk mendirikan masjid. Rasulullah SAW yang pertama kali meletakkan batu tepat di kiblatnya yang kemudian disusul oleh Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Umar. Kemudian baru kaum muslimin beramai-ramai membangunnya. Saat ini luas masjid Quba sekitar 5.035 meter persegi memiliki 19 pintu dengan 3 pintu utama tempat masuk para jamaah ke dalam masjid. Dua pintu diperuntukkan untuk jamaah laki-laki dan 1 pintu masuk untuk jamaah wanita. Di seberang ruang utama masjid terdapat ruangan yang dijadikan tempat belajar mengajar.

Masjid Quba memiliki keutamaan berdasarkan Al Quran dan hadits seperti berikut
"......Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar taqwa (Masjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut untuknu sholat di dalamnya. Di dalam masjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih" (Qs At Taubah 108)

"Barangsiapa yang bersuci di rumahnya kemudian pergi ke masjid Quba lalu ia shalat di dalam masjid quba maka baginya pahala seperti pahala umrah." (HR Tarmidzi)

"Ketika pembangunan masjid ini selesai, Rasulullah SAW mengimami shalat selama 20 hari. Semasa hidupnya, lelaki yang dijuluki Al Amin ini selalu pergi ke masjid Quba setiap hari sabtu, senin dan kamis. Setelah Rasulullah SAW wafat, para sahabat menziarahi masjid ini dan melakukan shalat di sana." (HR. Bukhori dan Muslim)

interior di dalam masjid Quba

Masjid Quba dari sisi belakang
Sumber foto : https://id.wikipedia.org/

Saat kami tiba di Masjid Quba, situasi di sana sudah ramai oleh jamaah lain yang akan melaksanakan shalat, aku pun mendapatkan shalat di lantai 2. Di sini pun aku sedikit mendapat teguran dari Allah SWT. Ketika akan melaksanakan shalat sunah, aku meletakkan kacamataku di lantai dengan posisi nantinya tepat berada di depan dengkulku ketika aku duduk. Ketika aku shalat di rakaat pertama tiba-tiba ada jamaah yang lewat di depanku dan kakinya tepat berada di samping kacamataku. Seketika itu juga konsentrasiku hilang, dalam shalat tersebut aku juga memikirkan kacamata itu. Hatiku berguman,"Apa jadinya tadi kalau kacamata terinjak?", "Bagaimana nanti kalau ada jamaah lain lewat seenaknya di depan shalatku dan menginjak kacamataku ?"....hah benar-benar hilang konsentrasiku walaupun mulut ini terus membaca bacaan shalatku. Setelah aku bangun dari rukuk pertamaku, kacamataku tak terlihat dari pandanganku. Aku langsung istighfar minta ampun kepada Allah, aku pasrahkan kacamataku dan berusaha untuk khusyu. Selesai shalat, sedikit zikir dan berdoa aku pun mencoba mencari kacamataku. Aku raba area di sekitar tempatku shalat, tempatku sujud, area tempatku duduk, karpet/lantai kanan kiriku duduk sambil terus beristigfar dan kuraba berulang-ulang di tempat yang sama. Akhirnya setelah sekitar 2 menit, tangan ini menyentuh kacamata yang saat ditemukan berada tepat di samping paha kananku, ampuni aku ya Allah.


PERKEBUNAN KURMA
Ketika umroh, mengunjungi perkebunan kurma merupakan salah satu agenda city tour rata-rata travel Indonesia. Pohon kurma dapat berbuah setelah ditanam selama 4 sampai 7 tahun dan baru bisa dipanen setelah berusia 7 sampai 10 tahun. Satu pohon kurma yang telah dewasa dapat menghasilkan 80-120 kg kurma. Untuk mendapatkan buah yang berkualitas maka tandan kurma harus ditipiskan dan dibungkus atau ditutup sebelum matang agar buahnya terlindungi dari cuaca dan hama dan kurma tumbuh lebih besar. Kurma meruupakan salah satu buah yang diabadikan di Al Quran dan hadits dan memiliki banyak manfaat.


"Dan Dia-lah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan tidak berjunjung, pohon kurma, tanaman-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa bentuk dan warnanya dan tidak sama rasanya. Makanlah dari buahnya yang bermacam-macam itu apabila ia berbuah dan tunaikanlah haknya di hari memetik buahnya dengan dikeluarkan zakatnya dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan." (al An'am:141)



"Dan di Bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdapingan, kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman, pohon kurma yang bercabang dan tidak bercabang disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebagian tanam-tanaman itu atas sebagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi kaum yang berpikir." (Ar Rad:4)



Sa'ad RA mendengar Rasulullah bersabda,"Barangsiapa memakan tujuh butir kurma ajwah di pagi hari maka racun dan sihir tidak akan membahayakan pada hari itu." (HR Bukhari)


Anas RA berkata,"Rasulullah SAW berbuka sebelum shalat dengan beberapa butir kurma basah (ruthab). Apabila tidak ada kurma basah di tempat beliau maka beliau berbuka dengan beberapa butir kurma kering (tamr) dan apabila tidak ada kurma kering maka beliau menghirup beberapa teguk air." (HR Ahmad dan Abu Daud)


Dalam kitabnya, Zad Al-Ma'ad, Ibnu Qayyim menyebutkan bahwa kurma dapat menguatkan perut yang dingin, menyamankan dan menyuburkan badan. Ia termasuk buah yang paling mulia dan paling bermanfaat. Ia adalah raja buah-buahan, penguat lever dan pelembut tabiat. Ia adalah buah yang paling banyak memberikan nutrisi. Panas yang dikandungnya adalah penawar racun. Apabila ia dimakan terus menerus sebelum makan pagi maka ia dapat melemahkan cacing dan menguranginya. Ia adalah makanan, obat, minuman dan manisan sekaligus.


Di dalam perkebunan kurma ada sebuah toko yang menjual aneka macam kurma dan beberapa makanan lain yang dapat dijadikan sebagai oleh-oleh. Di toko ini kita bebas untuk mencicipi aneka kurma tersebut secara gratis tapi untuk harga termasuk mahal. Aku sempat membeli 2 jenis kurma yang berbeda tapi sudah lupa untuk namanya yang jelas sih bukan kurma Ajwa. Selesai berbelanja kurma, kami pun segera kembali ke bis untuk menuju tujuan berikutnya



sumber :
https://id.wikipedia.org/
https://www.kabarmakkah.com



KEMEGAHAN MASJID NABAWI DAN PERJUANGAN MENUJU RAUDHAH

Kota Madinah yang terletak di negara Arab Saudi merupakan salah satu kota yang banyak dikunjungi dan diziarahi oleh kaum muslim. Kota ini pun dianggap sebagai kota suci kedua oleh umat muslim dunia. Pada zaman Nabi Muhammad SAW, kota ini menjadi pusat dakwah, pusat pendidikan islam dan pusat penyebaran agama islam. Dari kota inilah agama islam mulai menyebar ke selusruh jazirah arab kemudian ke seluruh dunia. Sebelum datangnya islam, kota madinah dikenal dengan nama Yastrib dan merupakan pusat perdagangan. Hasil perekonomian kota Yastrib atau Madinah adalah perkebunan dan peternakan. Dari kota inilah banyak dihasilkan kurma dan peternakan unta. Setelah kedatangan nabi Muhammad SAW, beliau pun mengganti nama kota Yastrib menjadi Madinah.

Di kota Madinah ada beberapa tempat yang dikunjungi oleh umat muslim pada saat umroh atau haji yaitu

MASJID NABAWI

Tujuan utama datang ke kota Madinah adalah agar bisa melaksanakan shalat di masjid Nabawi karena keutamaannya yang begitu besar, Nabi Muhammad SAW bersabda,

"Shalat di masjidku (masjid Nabawi) lebih baik dari 1000 shalat di masjid lainnya selain Masjidil Harom" (HR Bukhari no 1190 dan Muslim no 1494 dari Abu Hurairah)

Dalam riwayat lain, Nabi shallallahu'alaihi wa salam bersabda,

"Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih utama daripada 1000 shalat di masjid lainnya selain Masjidil Harom. Shalat di Masjidil Harom lebih utama daripada 100.000 shalat di masjid lainnya." (HR Ahmad dan Ibnu Majah no 1406, dari Jabir bin Abdillah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat shahih At Targhib wa At Tarhib no 1173)

Di tahun 2015 ini, akhirnya aku mendapatkan kesempatan untuk bisa menginjakkan kaki di tanah suci ini, alhamdulillah terima kasih atas segala nikmat-Mu ya Allah. Berdasarkan pengalaman, jika ingin melaksanakan shalat wajib dan ingin shalat  di dalam masjid Nabawi maka datanglah 1 jam sebelumnya, ini pada saat di luar musim haji. Bagiku untuk bisa shalat di dalam masjid Nabawi adalah kesempatan yang amat sangat langka karena dibutuhkan biaya yang cukup mahal untuk bisa berkunjung ke tanah suci ini maka jangan sia-siakan waktu selama di tanah suci. Satu hal yang mungkin disukai ketika selesai melakukan shalat di masjid Nabawi yaitu adanya pasar kaget yang berada di luar pagar masjid Nabawi.

Masjid Nabawi ini awalnya hanya berukuran 50m x 50m dan tinggi 3,5m namun kini masjid ini telah direnovasi dan mengalami perluasan berkali-kali. Renovasi pertama kali dilakukan oleh khalifah Umar Bin Khattab pada tahun 17 H dan perluasan kedua dilakukan oleh khalifah Ustman Bin Affan pada tahun 29 H. Luas bangunan masjid Nabawi saat ini mungkin sekitar 100.000 m persegi yang mungkin bisa menampung 650.000 jemaah pada saat umroh. Bagi umat muslim yang sudah pernah kesana mungkin sempat mengamati kubah geser dan payung di masjid nabawi yang semuanya dapat dibuka dan ditutup sesuai dengan keperluannya. Payung masjid Nabawi ini kemudian menjadi trend bagi seluruh masjid di dunia termasuk di Indonesia. Dua masjid di Indonesia yang pernah saya lihat menggunakan payung seperti di masjid Nabawi adalah masjid Adzikra Sentul dan masjid Agung Semarang.


Ilustrasi masjid Nabawi di zaman Nabi Muhammad SAW
sumber : Http://hisbut-tahrir.or.id/

Masjid Nabawi saat ini, di bawah kubah hijau tsb letak makam Nabi
sumber : http://id.wikipedia.org/





Lingkungan sekitar masjid Nabawi


Di Masjid Nabawi ini, aku punya cerita yang menyenangkan. Ketika aku menunggu waktu shalat tiba, aku isi waktu kosong tersebut dengan membaca Al Quran terjemahan. Seorang bocah berkulit putih berambut keriting menghampiriku dan menatapku sambil mengemut dot di mulutnya. Kemudian ia menyentuh Al Quran dan berusaha untuk mengambilnya dari tanganku. Aku pun melepaskan Al Qur'an terjemah tersebut dan memberikannya kepadanya. Bocah kecil nan lucu itu pun melepaskan dotnya dan memberikannya kepadaku sambil tersenyum-senyum dan aku pun memasangkan dotnya tersebut ke salah satu bagian bajunya karena kulihat sebuah peniti bergantung di dot tersebut. Taklama bocah tersebut membuka lembar demi lembar Al Quran tersebut tiba-tiba ia membalikkan tubuhnya dan duduk di pangkuanku tanpa perlu kutarik tubuhnya. Aku pun sangat terkejut, tidak kusia-siakan kesempatan ini langsung kupeluk bocah kecil nan lucu itu. Ibu dari bocah kecil itu yang duduk sebaris dengan shafku dan terpisahkan oleh sekitar 5 orang dariku pun terus memanggilnya tapi sang bocah lucu tersebut tak menggubrisnya.










RAUDHAH

Raudhah dalam arti bahasa berarti taman sebagai mana Nabi Muhammad SAW bersabda

"Tempat yang terletak di antara rumahku dengan mimbarku merupakan suatu taman di antara taman-taman surga, sedang mimbarku itu terletak di atas kolamku." (Riwayat Bukhari)

Rumahku dalam arti hadits tersebut di atas rumah yang didiami oleh Rasullulloh semasa beliau hidup beserta istri beliau Aisyah RA yang kemudian menjadi kuburan beliau dan dua sahabat beliau yaitu Abu Bakar Ash-Shidiq RA dan Umar Bin Khattab RA. Makna taman surga menurut para ulama hadits adalah arena yang menyerupai taman surga yang dapat mendatangkan kebahagiaan dan ketenangan bagi orang yang duduk di dalamnya. Penjelasan lainnya, kelak di akhirat tempat tersebut menjadi salah satu taman di taman-taman surga. Namun ada juga yang menafsirkan orang yang berdoa dan memohon kepada Allah SWT di tempat ini seperti penghuni surga yang memohon kepada Allah SWT, permohonan dan doanya mustajab (lihat Ibn najjar, Akhbar madinati Ar-Rasull, hal.389)

Awalnya raudhah ini terletak di luar masjid Nabawi, namun seiring dengan perluasan masjid Nabawi maka kini Raudhah terletak di dalam Masjid Nabawi ditandai dengan kubah berwarna hijau di atapnya dan ditandai dengan karpet berwarna hijau di dalam masjid Nabawi sedangkan di luar area Raudhah lantai masjid Nabawi dilapisi oleh karpet berwarna merah. Area Raudhah ini hanya berukuran 22 m dari arah barat ke timur dan 15 m dari utara ke selatan. Lokasi Raudhah ini berada di shaf laki-laki dan hanya terbuka di jam-jam tertentu bagi wanita yaitu dari jam 09.00 - 11.00 di pagi hari dan ba'da shalat isya samapi jam 23.00 malam dan masuk melalui babun Nisa (=pintu perempuan) sedangkan bagi laki-laki 24 jam dan pintu terdekatnya adalah babus salam (=pintu keselamatan).

Untuk bisa memasuki Raudhah begitu membutuhkan perjuangan sebagaimana yang aku rasakan. Setelah shalat isya dan makan malam, rombongan kamiberangkat menuju masjid Nabawi. Sebelum memasuki masjid Nabawi kami berdoa bersama-sama terlebih dahulu dan harus sudah dalam keadaan berwudhu. untuk bisa memasuki Raudhah kami harus mengantri, pembimbing kami mengatakan bahwa kami bisa menunggu antrian hingga 2 jam lamanya. Perlahan-lahan kami memasuki masjid Nabawi dan kemudian kami duduk menunggu antrian. Dalam keadaan antri tersebut, kami disarankan untuk melakukan zikir. Sedikit demi sedikit rombongan kami maju terus dan berjalan berdesak-desakan agar tidak terpish dari rombongan. Ketika sudah mendekati karpet berwarna hijau pembimbing kami mengingatkan agar terus berusaha berada di wilayah Raudhah sampai berhasil melaksanakan shalat sunah karena amat sangat disayangkan jika keluar dari Raudhah ternyata belum beribadah di sana.

Setibanya di Raudhah, pembimbing kami mengatur untuk memberi kesempatan kepada jamaah yang sudah tua untuk shalat terlebih dahulu dengan dipagari oleh jamaah yang muda. Ini pun bukan hal yang mudah karena kami terus didorong oleh jamaah dari rombongan lain yang juga ingin beribadah du Raudhah. Ketika mereka jamaah yang sudah lanjut usia selesai, giliran kami yang lebih muda namun pagar yang tadi kami bentuk pun sudah bubar. Kami masing-masing pun harus berpikir keras untuk bisa melaksanakan shalat di Raudhah di antara dorongan dan desakan jamaah lain. Aku pun mendapatkan kesempatan untuk melaksanakan shalat namun akhirnyha tumbang di rakaat kedua karena dorongan dari belakang dan tempat sujudku yang sudah dipenuhi jamaah lain. Aku pun terus berdoa meminta kemudahan untuk bisa melakukan shalat sunah di Raudhah sambil terus berpikir mencari tempat. Sempat terlintas di kepalaku sebuah tiang, ya sepertinya shalat di belakang tiang merupakan salah satu posisi yang aman. Akhirnya kesempatan itu pun tiba, posisi ddi belakang jamaah lansia yang shalat dengan menggunakan kursi aku dapatkan. Di posisi inilah aku bisa shalat dengan tenang, tidak merasakan dorongan dari belakang dan tidak ada lagi jamaah yang melintasi tempat sujudku.

Selesai shalat, aku pun mencoba keluar dari Raudhah dan di dekat pintu keluar, aku bertemu dengan pembimbing dan teman-teman yang sedang berusaha shalat di Raudhah di perbatasan antara karpet hijau dan merah. Aku pun mencoba untuk berdiri di antara perbatasan tersebut sambil berharap untuk bisa berdoa kembali di Raudhah dan kesempatan itu pun aku dapatkan.


Area Raudhah yang ditandai dengan karpet hijau
sumber : http://hajimabrurbarokah.com/

Karpet merah di Masjid Nabawi
sumber : http://hajimabrurbarokah.com/



Next post Masjid Quba

Sumber :
https://id.wikipedia.org/
http://suaramuslim.net/
http://mirajnews.com/
http://hizbut-tahrir.or.id/

PULAU HARAPAN DAN PULAU SEKITARNYA

Hari kedua di Pulau Harapan tidak seperti yang diharapkan karena semalam hujan turun sampai menjelang shubuh maka rencana kami untuk bisa melihat sunrise pun gagal. Akhirnya kami pun hanya menikmati suasana pemandangan langit dan pinggir pantai dari depan homestay. Inilah penampakan homestay yang kami tempati dan penampakan sunrise yang tertutup oleh awan.




Aku dan beberapa teman mencoba untuk keluar berjalan-jalan melihat lingkungan sekitar Pulau Harapan. Kami berjalan ke arah sebelah kiri dari homestay, mencoba mengikuti beberapa orang yang tadi sempat melintas di depan homestay. Namun jalan itu harus terhenti karena buntu terpotong oleh kumpulan air yang banyak, yang ada hanya seperti bongkahan cor-coran yang berbentuk persegi yang diletakkan saling bersambungan sebagai pijakan kaki. Akhirnya kami memutuskan untuk tidak melanjutkan lagi jalan pagi ini karena melihat pijakan-pijakan tersebut sepertinya tidak aman setelah teman-temanku melihat diriku mencoba berjalan di atasnya beberapa tapak.

Kami pun kembali ke homestay tapi ketika tiba di homestay sarapan pagi pun belum kunjung tiba, kami pun mencoba berjalan ke arah kanan dari homestay, melewati beberapa rumah penduduk, beberapa kelompok orang yang sedang mengobrol hingga akhirnya jalan kami pun berakhir di jalan buntu kembali. Sepertinya jika ingin berjalan mengelilingi Pulau Harapan harus cari jalan ke belakang karena homestay kami terletak di pinggir pantai yang terletak tidak jauh dari dermaga Pulau Harapan. Ketika kami berjalan untuk kembali ke homestay, hujan gerimis kembali turun, kami pun berlari-lari kecil agar segera tiba di penginapan. Setibanya di homestay, sarapan pagi telah hadir, kami pun bergegas untuk menyantapnya. Selesai sarapan, kami pun segera melanjutkan tour hari ke dua yaitu ke Pulau Perak dan Pulau Bira. Kunjungan hari kedua ini hanya bisa ke dua pulau tersebut karena jarak dari Pulau Harapan ke Pulau Perak yang agak sedikit lebih jauh.
Setibanya kami di Pulau Perak hanya ada 1 rombongan saja sekitar 15 orang tapi bagiku ini sudah cukup ramai dan padat karena Pulau Perak ini hanya sebuah pulau kecil saja, ditambah dengan rombongan ku yang berjumlah 16 orang. Pulau Perak merupakan salah satu pulau di kepulauan seribu yang tidak berpenghuni. Jadi jika ingin menginap di Pulau Perak maka bawalah tenda. Pulau ini memiliki hamparan pasir putih yang halus dan menawan. Walaupun tidak berpenghuni tapi ada penjual di pulau ini jika hanya mencari pop mie atau sekedar minuman hangat.



Perjalanan pun dilanjutkan ke Pulau Bira Besar. Setibanya kami di Pulau ini, sudah banyak wisatawan yang berkunjung bahkan sebagian besar sepertinya sudah akan meninggalkan Pulau ini. Jika melihat kondisi Pulau Bira Besar, dahulu ini sepertinya sebuah resort yang cukup besar yang dikelola oleh sebuah perusahaan swasta karena melihat sisa-sisa bangunan-bangunan penginapan yang cukup bagus design-nya dan juga sebuah kolam renang tapi semua itu sudah tidak terawat. Ada beberapa rumah yang sepertinya ditempati, mungkin oleh penjaga pulau ini atau penduduk yang berjualan di pulau ini, entahlah. Kami pun menelusuri pinggiran Pulau Bira Besar hingga kami menemukan sebuah dermaga yang sepertinya sudah tidak digunakan.
Puas menikmati Pulau Bira Besar, kami pun segera kembali ke Pulau Harapan untuk kembali ke Jakarta. Waktu sudah menunjukkan pukul 11 siang ketika kami akan meninggalkan Pulau Harapan. Segera kami bergegas menuju kapal yang akan membawa kami ke Ibukota Jakarta. Kapal pun sudah penuh dan kami mencari beberapa tempat yang masih bias kami tempati. Alhamdulillah kami masih bisa sedikit merebahkan badan walaupun kaki sedikit ditekuk karena kapal yang kami tumpangi saat kepulangan lebih penuh dibandingkan saat keberangkatan. Ombak selama perjalanan pulang pun terasa lebih tinggi dibandingkan saat keberangkatan yang tidak terasa sama sekali. Untungnya kami bisa tiduran lesehan sehingga tidak terasa mual karena jika posisi duduk maka akan sangat terasa pusing dan mual. Waktu menunjukkan jam 4 sore ketika kami tiba di dermaga Muara Angke.

SNORKELING, BERMAIN DAN MENIKMATI SUNSET DI KEPULAUAN SERIBU

Indonesia negeriku yang begitu indah yang terdiri pulau-pulau dengan pantai-pantai yang cantik, gunung-gunung nan hijau, alam bawah laut yang memiliki variasi ikan dan karang yang beraneka ragam. Salah satunya adalah kepulauan seribu yang letaknya tidak terlalu jauh dari ibukota Jakarta. Pada tanggal 9 Mei 2015, akhirnya aku bisa berkunjung ke salah satu pulau di kepulauan seribu yaitu Pulau Harapan. Pulau Harapan merupakan pulau yang terletak paling jauh dari dermaga Muara Angke, dibutuhkan waktu selama 3 jam untuk bisa tiba di Pulau Harapan dengan menggunakan perahu kayu.

Perjalanan kali ini diikuti oleh 16 orang yang terdiri dari 12 orang dewasa dan 4 anak-anak Kami mengambil paket perjalanan langsung dengan salah satu penduduk Pulau Harapan yaitu pak Salim. Dari 16 orang ini, 8 orang memulai perjalanannya ke Pulau Harapan melalui Dermaga Marina Ancol menggunakan speed boat dengan harga tiket sebesar Rp.500.000 PP. Sedangkan sisanya 8 orang termasuk aku memilih melalui Dermaga Muara Angke dengan harga tiket hanya Rp.100.000 PP, maklum kami ini hanya memiliki budget yang pas-pasan tapi maunya jalan-jalan.

Hari H yang ditunggu pun tiba, jam 4 pagi aku sudah mulai berangkat dari rumahku yang berada di daerah ujung Jakarta Selatan menuju Dermaga Muara Angke dengan diantar oleh suamiku menggunakan sepeda motor. Menjelang subuh, kami sudah hampir mendekati daerah Muara Angke namun kami putuskan untuk berhenti terlebih dahulu di sebuah masjid untuk melaksanakan shalat shubuh berjamaah. Selesai shalat shubuh perjalanan pun kami lanjutkan dan kami pun memasuki daerah Muara Angke. Akhirnya sekitar jam 5 lebih aku pun tiba di SPBU yang terletak di samping Dermaga yang merupakan meeting point. Suasana SPBU subuh itu masih terlihat sepi dan aku yang datang pertama dari 8 orang temanku. Untuk  tiket keberangkatan ini sudah termasuk di harga paket jadi aku hanya perlu menghubungi orang yang telah ditunjuk oleh pak Salim. Satu persatu temanku pun bermunculan, setelah lengkap kami pun diantar naik ke perahu yang sudah parkir di Dermaga. Sekitar jam 8 lebih, kapal pun mulai berangkat, aku bersyukur penumpang di kapal perahu ini tidak begitu penuh, mungkin itu juga yang menyebabkan kapal berangkat begitu siang.

Sekitar jam 11 siang pun kami mendarat di dermaga pulau harapan dan kami pun di jemput oleh pak Salim. Teman-teman yang berangkat dari dermaga marina Ancol telah tiba sejak tadi karena lamanya perjalanan dengan speedboat hanya sekitar 1,5 jam dan mereka pun berangkat dari dermaga Marina sekitar jam 8 pagi. Homestay yang kami tempati masih baru dan kami adalah penyewa pertama, alhamdulillah senangnya. Ketika kami tiba makan siang pun sudah tersedia di meja, istirahat sebentar dan kami pun langsung menyantap makanan tsb. Sekitar jam 1 siang kami pun mulai berangkat untuk melakukan island hoping dan snorkeling.

Kami mendapatkan 2 spot snorkeling tapi aku lupa namanya #efeknulishanyaberdasarkaningatan, berikut ini aktifitas kami.

































Spot selanjutnya bermain di Pulau Bulat dan menanti sunset di sana.




























Bersambung