PANTAI MUSTIKA & PANTAI PULAU MERAH - BANYUWANGI

Cerita sebelumnya Kawah Ijen - Banyuwangi

Setelah turun dari kawah ijen, kami pun mencari sarapan pagi di warung-warung yang tersedia di dekat parkiran. Di Salah satu warung ada yang menjual bakso (menurut saya) tapi ketika kami sebut bakso, sang penjual agak bingung lalu dia menunjuk yang bulat-bulat itu pentol bukan bakso. Sang penjual pun menjelaskan, kalau bakso dijualnya ada mie_nya sedangkan beliau tidak menjual dengan mie_nya sehingga dinamakan pentol. Walaupun sudah diberitahu bahwa ini adalah pentol, tetap saja kami menyebutnya bakso hehehe........beda daerah beda istilah. Si pentol ini, kami pesan bersamaan dengan indomie rebus alias indomie rebus pake pentol. Selesai makan, perjalanan pun dilanjutkan ke tujuan berikutnya yaitu Pantai Mustika, Pantai Wedi ireng & Pantai Pulau Merah. Di tengah perjalanan, kendaraan kami mengisi bensin di SPBU, kesempatan ini digunakan oleh kami untuk ke kamar mandi sekedar cuci muka atau sikat gigi. Perjalanan dari Kawah Ijen menuju Pantai Mustika memakan waktu sekitar kurang lebih 3 jam.

Setibanya di Pantai Mustika, kami cari makan siang terlebih dahulu. Kami makan di sebuah warung makan yang self service.....iya....nasi dan teman-temannya kita ambil sendiri, nanti si punya warung akan menghitungnya dan harga yang diberikan termasuk murah. Selesai makan rencana berikutnya adalah ke Pantai Wedi Ireng namun karena antrian kapal penyebrangan yang cukup lama karena jumlah kapal yang terbatas dan jumlah pengunjung yang ingin menyebrang ke Pantai Wedi Ireng lebih banyak dibandingkan hari biasanya, akhirnya kami pun memutuskan untuk membatalkan kunjungan ke Pantai Wedi Ireng.



Di sekitar pantai ini, kami mengantri kapal menuju Pantai Wedi ireng

Kami pun menikmati dan bernarsis ria di sekitar Pantai Mustika. Pantai Mustika terletak di kawasan Pancer, Desa Sumberagung, kecamatan Pesanggaran. Pantai Mustika masih satu garis pantai dengan Pantai Pulau Merah. Dari Pantai Mustika hanya sekitar 3 - 4 km menuju pantai Pulau Merah. Ombak di Pantai Mustika ini termasuk aman untuk bermain air di tepi pantai, pasirnya putih dan bersih.













Dari Pantai Mustika dilanjutkan ke Pantai Pulau Merah yang terletak tidak jauh dari Pantai Mustika. Pantai ini dikenal karena sebuah bukit kecil yang memiliki tinggi sekitar 200 meter yang bertanah merah yang ditutupi oleh vegetasi hijau sehingga tidak terlalu nampak aslinya. Bukit ini terletak tidak jauh dari bibir pantai yang dapat dikunjungi dengan berjalan kaki pada saat air laut sedang surut. Pantai Pulau Merah terbentang sepanjang 3 km dan memiliki ombak yang cukup tinggi sehingga tidak sesuai jika digunakan untuk berenang. Namun ombak yang cukup tinggi di Pantai Pulau Merah ini banyak disukai oleh peselancar. Di tahun 2013 tepatnya 24 - 26 mei di Pantai Pulau Merah ini pernah diadakan kejuaraan International Surfing Competition yang diikuti oleh beberapa negara. Di Pantai Pulau merah ini juga sudah tersedia tempat untuk berjemur bagi wisatawan. Harga tiket masuk ke Pantai Pulau Merah hanya Rp.8.000 / orang.
















Sore itu di Pantai Pulau Merah langit sudah mulai gelap, perlahan pun hujan mulai turun. Akhirnya kami memutuskan untuk segera kembali ke penginapan agar dapat beristirahat cukup dan melanjutkan perjalanan ke tujuan berikutnya.

KAWAH IJEN - BANYUWANGI

Cerita sebelumnya Taman Nasional Baluran

Jam sudah menunjukkan jam 23.00 dan kami harus sudah bangun dan bersiap-siap untuk berangkat ke kawah ijen. Alhamdulillah dalam waktu 2 jam tadi aku sempat tertidur pulas. Tidur pun dilanjutkan di dalam mobil yang mengantar kami ke kawah ijen karena perjalanan akan memakan waktu sekitar 2 jam. Kami pun tiba di area parkir kawah ijen. Sebelum tiba di kawasan kawah ijen, kami sempat diminta membayar retribusi sebesar Rp.3000/orang ketika melewati sebuah desa yang terletak di kecamatan Licin yaitu kawasan desa wisata Tamansari. Awalnya kupikir kami sudah sampai di kawah ijen ternyata perjalanan masih berlanjut. 

Desa Tamansari ini letaknya berada di tengah-tengah perjalanan menuju kawah ijen sehingga desa ini pun tepat untuk dijadikan rest area bagi wisatawan yang ingin berkunjung ke kawah ijen. Di desa wisata Tamansari ini wisatawan bisa mencicipi kuliner khas suku Osing, keindahan alamnya, keramahtamahan warga lokal dan juga membeli oleh-oleh. Penduduk asli banyuwangi disebut dengan suku Osing. Suku Osing ini memiliki dialek dan bahasa sendiri yang berbeda yang merupakan turunan langsung dari bahasa jawa kuno tapi bukan bahasa jawa ataupun bahasa madura. Untuk melestarikan kebudayaan dan keberadaan suku Osing ini maka ditetapkanlah desa Kemiren yang terletak di kecamatan Glagah sebagai desa adat dan desa wisata yang tetap melestarikan nilai-nilai budaya suku Osing.

Harga tiket masuk ke kawah ijen adalah Rp.7000/orang, harga yang lebih murah dibandingkan htm ke TN Baluran. Sebelum mulai menanjak ke kawah ijen, kami mampir dulu ke toilet agar tidak ada hasrat untuk membuang hajat baik ketika nanjak ataupun setibanya di atas sana. Tapi jujur walaupun saya telah buang air kecil sebelum nanjak tetap saja ada kekhawatiran jika nanti di atas sana ingin lagi secara hawa dingin memudahkan saya untuk ingin buang air kecil. Sebelum nanjak kami diberi petunjuk oleh guide agar berjalan santai aja, tidak usah buru-buru, jika lelah.....berhenti jangan dipaksakan untuk jalan terus. Tehnik ini pun kami praktekkan dan walhasil 8 dari 10 orang yang nanjak berhasil tiba di puncak kawah ijen dalam waktu kurang lebih 2 jam dengan usia kami yang sudah cukup umurlah......hahaha.....eeiittt tapi 3 dari yang 8 masih muda kok dan tentunya mereka tiba di atas lebih awal. Saya cukup salut dengan teman-teman perjalanan saya ini, dengan kondisi yang hanya istirahat 2 jam di penginapan & 2 jam di dalam kendaraan setelah melalui perjalanan yang cukup jauh dari surabaya ke Banyuwangi, mereka tetap fit dan tiba di atas dalam waktu yang tidak terlalu lama. Bahkan ada beberapa teman yang tidak merasakan tidur pulas ketika persiapan berangkat dari Jakarta karena harus berangkat jam 3 dinihari ke Bandara Soetta. Alhamdulillah kami diberi kesehatan dan stamina yang fit.

Kawah Ijen merupakan sebuah danau di puncak Gunung Ijen dengan tinggi 2.443 mdpl dengan kedalaman danau sekitar 200 meter dan luas danau 5.466 hektar. Danau kawah ijen yang berwarna hijau tosca memiliki sifat asam yang terbesar di dunia. Gunung Ijen sendiri masih merupakan gunung berapi yang aktif yang terletak di perbatasan kabupaten Banyuwangi dan kabupaten Bondowoso yang masih berdekatan dengan Gunung Merapi dan Gunung Raung. Gunung Ijen kini telah ditetapkan sebagai cagar biosfir oleh Unesco, tentunya ini akan mendatangkan wisatawan mancanegara yang lebih banyak. Salah satu keunikan dari gunung Ijen adalah adanya blue fire atau api biru yang muncul di tengah-tengan penambangan belerang. Blue fire ini hanya bisa dilihat sejak dinihari sampai dengan jam 5 pagi. Di dunia ini hanya ada 2 fenomena blue fire dan yang satunya terletak di negara Islandia

Awalnya beberapa teman ada yang ingin turun melihat blue fire tapi akhirnya diurungkan setelah melihat jalur yang akan dilalui terlihat begitu terjal, tentunya akan membutuhkan tenaga ekstra untuk kembali naik. Kami pun tidak bisa mengabadikan blue fire dalam jepretan kamera karena tidak ada yang membawa lensa jarak jauh (memang gak ada yang punya juga sih....hehehehe....). Bagi yang muslim saya sarankan untuk membawa alas untuk shalat shubuh di atas sana, jangan sampai kita lalai menunaikan kewajiban di saat kita sedang menikmati keindahahan ciptaan-Nya. Memang tidak ada fasilitas tempat shalat ketika tiba di atas kawah ijen tapi dimanapun kita berada kita harus tetap tegakkan kewajiban itu, pandai-pandailah mencari tempat, tak bisa wudhu dengan air Allah kasih keringanan dengan tayamum. 
















Sayangnya kami tidak bisa melihat warna kawah ijen yang hijau tosca, kawah tersebut selalu ditutupi baik oleh kabut maupun asap belerang. Berdasarkan info dari beberapa teman jika ingin melihat kawahnya yang berwarna hijau tosca maka bertahanlah sampai sekitar jam 9 pagi. Tapi bagi kami jika harus menunggu sampai jam 9, waktu yang terlalu lama sedangkan beberapa dari kami saja sudah ingin buru-buru ke toilet...hahahaha.....Perjalanan turun ternyata lebih berat karena medan yang sedikit berpasir dan kaki yang harus sedikit menahan berat badan. Seorang teman pun beberapa kali terjatuh ketika turun dan 2 di antara kami turun dengan menggunakan trolley yang ditawarkan oleh warga lokal....hahahaha....ternyata di kawah ijen ada penyewaan trolley bagi yang tidak sanggup.



SURABAYA - TN BALURAN - BANYUWANGI

Alam Indonesia memang selalu menggoda untuk dijelajahi ditambah dengan tanggal merah di akhir minggu. Di bulan Mei 2016, ada tanggal merah yaitu 5 & 6 yang jatuh di hari kamis & jumat. Aahhhh.....pas sekali untuk melakukan perjalanan yang cukup jauh. Tujuan kali ini adalah explore Banyuwangi dan sekitarnya. Setelah melihat harga tiket Jakarta - Surabaya pp yang sesuai dengan kantong kami maka trip kali ini dimulai pada tanggal 4 mei dan berakhir pada tanggal 7 Mei 2016. Sekitar Jam 6 lebih, kami telah tiba di Bandara Juanda Surabaya karena jadwal penerbangan kami yang dimajukan oleh maskapai menjadi jam 5 pagi dan sang guide pun sudah datang menjemput. Hari pertama ini tujuian pertama adalah Taman Nasional Baluran yang terletak di daerah Banyuputih Situbondo - sebelah utara dari kabupaten Banyuwangi. Taman Nasional Baluran sering disebut juga dengan Africa Van Java karena jika anda datang di musim kemarau maka akan didapati savana yang kering. Namun jika datang di saat musim penghujan maka padang savana ini akan terlihat hijau sehingga tidak ada kesan akan Africa Van Java. Nama Baluran diambil dari sebuah gunung yang terletak di taman nasional ini yaitu Gunung Baluran. Luas kawasan Taman Nasional Baluran sekitar 25.000 hektar. 

Kami tiba di Taman Nasional Baluran sekitar jam 15.00 yang berarti telah menempuh waktu sekitar 9 jam perjalanan dengan istirahat makan siang sekitar 1 jam dan tanpa macet. Harga tiket masuk Taman Nasional Baluran sebesar Rp.15.000/orang. Setelah selesai shalat Ashar kami pun masuk ke TN Baluran, waktu yang sudah cukup sore namun sang matahari masih memancarkan cahayanya dengan terang. Tempat yang ingin kami kunjungi adalah savanah bekol. 














Di sanah bekol ini, kami melihat burung merak, kerbau dan rusa tapi sayang tidak sempat aku foto. Matahari pun sudah mulai tenggelam maka kami pun segera meninggalkan TN Baluran untuk menuju ke kota Banyuwangi. Waktu yang ditempuh dari TN Baluran menuju kota Banyuwangi sekitar 2 jam, sekitar jam 8 malam kami pun tiba di penginapan. Kami langsung bersih-bersih, makan malam dan istirahat karena jam 11.00 kami harus bangun dan memulai perjalanan menuju kawah ijen.

bersambung ke Kawah Ijen - Banyuwangi

GENTING HIGHLAND - Hari ke-3 di Kuala Lumpur

Cerita sebelumnya Colmar Tropicale & Menara Kembar Petronas

Waktu sudah menunjukkan jam 05.30 ketika ku terbangun pagi ini. Rasanya males banget mau bangun karena kaki ini terasa capek banget karena banyak jalan kaki di hari kedua ini. Aaahhh....tapi bukan sudah biasa kalau aku bikin trip selalu bikin gempor kaki  hehehe.....Semua teman-temanku pagi ini bangun lebih siang sehingga agak molor dari jadwal trip yang seharusnya dimulai. Selesai sarapan kami langsung chek out dari hotel dan menuju ke KL Sentral. Tujuan ini adalah ke Genting Highland dan untuk tiketnya dapat dibeli KL Sentral. Cukup sulit juga bagi kami untuk menemukan loket penjualan tiket bus GO Genting. Setelah tanya ke beberapa orang akhirnya kami menemukan juga lokasi loket penjualan tiket yang terletak di lower ground floor KL Sentral. Harga bus Go Genting sekali jalan RM 4.30 dan harga tiket skyway RM 6.40.





Berhubung kami sudah chek out dari hotel maka kami pun mencari tempat penitipan tas yang kemarin sudah kami lewati ketika kami mencari musholla untuk shalat saat hari pertama tiba di KL Sentral. Harga pun bervariasi untuk loker pernitipan tas ini, harga sesuai dengan ukuran, kami pun memilih loker dengan harga RM15 karena berharap tas kami berempat bisa masuk menjadi satu dan ternyata pas sekali. Loker penitipan tas ini sebenarnya adalah loker dengan menggunakan koin untuk membukanya tapi alhamdulillahnya sedang tidak berfungsi. Tapi tenang saja walau sistem koinnya tidak berfungsi, ada penjaga yang membantu. Sebelum loker dikunci maka kami harus memastikan barang-barang mana saja yang akan kami bawa dan barang-barang mana saja yang disimpan di loker karena ketika loker sudah dikunci maka kami tidak dapat membukanya lagi untuk sebentar saja atau dengan kata lain loker ini hanya berlaku untuk 1x buka dan 1x tutup.



Sebelum pergi meninggalkan loker, posisi loker kami foto terlebih dahulu takut kami lupa. Kemudian kami pun langsung menuju tempat keberangkan bis Go Genting. Ternyata pagi itu cukup banyak yang antri untuk bisa pergi ke Genting Highland dan sedikit bingung dengan situasi di sekitar bis. Kami tunjukkan tiket kami ke kondektur bis lalu kami disuruh menunggu duduk di ruang tunggu yang terletak pas di samping bis yang akan berangkat. Namun di sisi lain kami melihat beberapa orang yang berdiri antri dekat pintu bis, tentu saja kami ingin tahu apa bedanya yang antri duduk dengan yang berdiri. Ternyata yang antri berdiri adalah calon penumpang yang naik pada jadwal berikutnya seperti kami. Jika sampai pada jam keberangkatan ternyata masih ada kursi yang kosong maka yang antri berdiri tersebut dipersilahkan naik. Kami santai tetap memilih duduk karena kami pikir kalo ikut antri berdiri, iya kalau masih dapat kursi kalau tidak, pegel lah nih kaki. Ketika bis ini akan berangkat, mulai lah kondektur bis menghitung kursi yang masih kosong dan mereka yang antri berdiri diperbolehkan masuk. Setelah mereka yang antri berdiri masuk semua, aku pun langsung berdiri menghampiri sang kondektur dengan menunjukkan 4 jari yang berarti kami berempat dan alhamdulillah kami berempat langsung diperbolehkan naik dan pas sekali dengan sisa kursi yang masih kosong. Akhirnya kami bisa berangkat lebih awal dari jadwal seharusnya.

Lama perjalanan dari KL Sentral ke Genting Highland sekitar 1 jam lamanya. Turun dari Bis Go Genting perjalanan berikutnya dilanjutkan dengan naik skyway. Dalam perjalanan skyway ini kami disuguhkan pemandangan yang indah dan hawa sejuk perlahan-lahan mulai terasa.







Turun dari skyway, kami berjalan mengikuti orang saja sampai akhirnya tiba di suatu tempat yang dijaga. Ketika kami akan masuk kami dihadang oleh penjaga & mereka mengatakan bahwa ini casino....hahahaha...
Tentu saja kami dihadang karena dari kami berempat, yang 3 orang menggunakan jilbab. Akhirnya kami turun dari escalator dan mengikuti jalannya orang lain lagi dengan memperhatikan petunjuk sekitarnya. di Genting ini kami memang tidak berniat untuk masuk ke indoor theme parknya atau pun snow world. Kami hanya ingin lihat-lihat saja. Menurut saya sih, biasa-biasa aja ya genting highland itu, tidak terlalu menarik atau mungkin karena kami tidak masuk ke theme parknya ya. Tapi bersyukurnya kami menemukan tempat yang cukup bagus untuk berfoto-foto yang bertema ala-ala jepang, entah tempat ini sementara atau memang permanen di dalam Genting Highland. 















Puas bernarsis kami pun segera ingin kembali ke KL Sentral namun kami mendapatkan jadwal jam 03.30 pm, yang berarti kami harus menunggu sekitar 2 jam lagi. Aaahhhh.....sebenarnya kami sudah bosan sekali di sini tapi apa daya, kami sudah kehabisan tiket untuk kepulangan yang lebih awal. Akhirnya jam yang ditunggu pun tiba dan yeeaaa kami kembali ke KL Sentral. Setibanya di KL Sentral kami menghabiskan sisa ringgit kami dengan membeli coklat sebagai oleh-oleh dan makan sore di meals station lagi. Kami pun harus segera pergi ke Bandara Kuala Lumpur untuk kembali ke Jakarta. Perjalanan malam itu ke bandara diiringi hujan deras. Alhamdulillah selama trip kami di Kuala Lumpur langit cerah.....bye-bye KL....

COLMAR TROPICALE & MENARA KEMBAR PETRONAS

Cerita sebelumnya Trip yang tak pernah direncanakan

Tujuan perjalanan hari ke 2 di Kuala Lumpur adalah Colmar Tropical yang terletak di Bukit Tinggi, Pahang, Malaysia. Colmar Tropical merupakan sebuah resort mewah ala Perancis. Nama Colmar diambil dari nama sebuah desa di Perancis dan bangunan-bangunannya pun dibuat mirip dengan aslinya. Perjalanan menuju Colmar Tropicale  dapat ditempuh kurang lebih selama 1 jam dari kota Kuala Lumpur. Untuk menuju ke Colmar Tropicale bisa menggunakan kendaraan pribadi atau  shuttle minibus yang tersedia di Berjaya Time Square. Untuk harga shuttle bis ke Colmare RM60 pp dan RM38 sekali jalan. Jadwal keberangkatan dan kepulangannya juga sudah ditentukan. Jam keberangkatan paling pagi adalah jam 09.30 dan jam kepulangan paling akhir adalah jam 19.30. Tiket masuk colmare ini telah kami pesan jauh-jauh hari melalui email sebelum kedatangan kami ke Kuala Lumpur. Bukti pemesanan dapat ditukar dengan tiket masuk di counter Colmar yang terletak di lt 8 Berjaya Time Square. Penukaran tiket ini kami lakukan 1 hari sebelumnya karena counter colmar tutup pada hari minggu dan hari sabtu pun hanya buka sampai dengan jam 2 siang.



Jam 9 pagi pun kami berangkat menuju Berjaya Time Square dengan berjalan kaki karena letaknya yang memang dekat dengan penginapan. Kami pun menuju shuttle bis yang telah parkir di depan lobby Hotel Berjaya Time dan penumpang pun telah lengkap yang berisi 8 orang. Akhirnya kami pun tiba di Colmare Tropicale.














Puas berkeliling Colmare Tropicale, kami melanjutkan perjalanan ke Japanese Village. Untuk menuju ke Japanese Village ini, kami menunggu shuttle di halte yang terletak di depan Colmare Tropical. Kegiatan yang bisa dilakukan di Japanese Village menyewa kimono dan berfoto di dalam rumah ala Jepang dan berfoto di luar rumah ala Jepang. Namun pada saat kami berkunjung ke sana, rumah ala jepang tersebut rusak karena tertimpa pohon yang jatuh tepat di atap rumah tersebut tapi penyewaan kimono tetap tersedia. Awalnya aku ingin berfoto dengan menggunakan kimono tapi akhirnya batal dan kami pun hanya berfoto-foto di sekitar tempat tersebut.









Puas berkeliling dan bernarsis ria, kami hanya duduk di halte depan Colmar sambil menunggu jadwal kepulangan ke Kuala Lumpur jam 16.00. Untuk jadwal shuttle ini benar-benar ontime loh karena ketika jam hampir menunjukkan jam 16.00, kami melihat supir bis shuttle menuju ke mobil maka segera kami pun masuk ke dalam mobil. Ketika berangkat dari Kuala Lumpur jumlah penumpamg di shuttle minibus ini berjumlah 8 namun ketika kami akan kembali ke Kuala Lumpur dari Colmare, 2 orang lagi tak segera muncul. Shuttle minibus ini tidak menunggu 2 orang tersebut langsung jalan meninggalkan parkiran colmare tanpa ada panggilan untuk 2 penumpang tersebut. Sebenarnya 2 orang ini sudah muncul dan menunggu di dekat mobil sekitar jam 3an lebih namun karena mobil tidak dibuka akhirnya mereka jalan kembali memasuki colmar. Jika sudah ditinggal seperti ini maka harus nunggu jadwal berikutnya yaitu sekitar jam 18.30. 

Setibanya di Kuala Lumpur, kami berempat langsung kembali ke penginapan sedangkan 2 teman kami melanjutkan ke Pasar Seni untuk mencari oleh-oleh. Setelah kira-kira cukup beristirahat, kami pun keluar dari penginapan menuju menara kembar Petronas. Kata orang, kalo ke Kuala Lumpur belum sah kalo foto di sini. Awalnya dari depan Pavilion Mall kami akan naik bis GO KL menuju Menara Kembar Petronas tapi karena kami mencari toko yang menjual coklat Berryl di samping Pavilion Mall dan tidak ketemu tokonya, akhirnya kami putuskan untuk jalan kaki karena kami menemukan petunjuk jalan yang mengarah ke Menara Kembar melalui jembatan penghubung. Kelebihan dari jembatan penghubung antara Pavilion Mall dengan Mall Suria KLCC adalah ber-AC walaupun jaraknya lumayan jauh. 











Sampainya di Mall Suria KLCC sempat bingung juga untuk menuju spot berfoto dengan background Menara Kembar tapi akhirnya ketemu juga. Di spot pertama ini terdapat pertunjukan tarian air mancur dan sudah penuh oleh orang-orang yang ingin menonton.


Dari tempat ini aku kembali masuk ke dalam mall dengan maksud kembali ke penginapan tapi ketika kami keluar ternyata ada spot yang lebih bagus lagi.



Dari Menara Kembar, kami melanjutkan ke Bukit Bintang untuk mencari makan malam. Dari Halte bis GO KL di Bukit Bintang, kami harus melanjutkan jalan kaki menuju Jalan Bukit Bintang yang terkenal itu dan kami mampir ke supermarket untuk membeli air mineral. Kami pun melewati sebuah kedai kebab yang ramai sekali, tentu saja ini membuat penasaran kami mengenai rasa dari kebab tersebut. Akhirnya temanku pun memutuskan membeli kebab di kedai tersebut dan ternyata antriannya lama sekali. Bayarnya cepet tapi nunggu panggilan ketika kebab itu sudah selesai....ampyunnnn.....lamanya, andai belum dibayar....kami sudah pergi dari kedai kebab itu. Untung rasanya enak dan beda dengan kebab yang dijual di indonesia, dagingnya pun bukan daging sapi tapi ayam. Ini kebab yang jual asli orang arab, yang ngantri pun kebanyakan cowok arab, hanya temenku yang cewek sendiri hehehe.....untung bukan aku yang ngantri.



Ketika mencari makanan di Bukit Bintang, kami mencari yang memasang logo halal karena walaupun Kuala Lumpur mayoritas islam namun para penjual makanan di Bukit Bintang banyak kedai yang menjual makanan non halal. Di Bukit Bintang ini, akhirnya kami memilih menu Tom Yam dari sekian menu yang disodorkan dan alhamdulillah rasanya enak. Kami pun berjalan kaki menuju penginapan setelah selesai menyantap makan malam. 

Cerita berikutnya  Genting Highland