Tampilkan postingan dengan label Ayam Taliwang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ayam Taliwang. Tampilkan semua postingan

SUMPAH.....LOMBOK ITU INDAH BINGIIIITTTSSS

Sebelumnya Keindahan Pantai Pink & Tanjung Ringgit

Hari kedua di Lombok, perjalanan hari ini merupakan trip hari pertama acara KJJI. Hampir seluruh peserta gathering nasional KJJI yang ke IX sudah berada di penginapan pagi itu. Bis pun meluncur ke tujuan pertama yaitu Tanjung Aan yang terletak di Lombok Tengah tapi kami mampir terlebih dahulu Bandara International Lombok untuk menjemput 1 peserta yang baru tiba di Lombok pagi itu. Perjalanan dari kota Mataram menuju pantai Tanjung Aan mungkin sekitar 1,5 jam dengan kondisi jalanan lancar. Tanjung Aan masih berada dalam satu garis pantai dengan Pantai Kuta Lombok. Tanjung Aan memiliki garis pantai yang cukup panjang mungkin sekitar 1 km. Sesampainya di Tanjung Aan, kami langsung naik ke atas bukit yang terletak tidak jauh dari parkiran dan Subhanallah.......sungguh indah ciptaan Mu ya Allah. Dari atas bukit ini, kami dapat melihat birunya air laut yang begitu jernih disertai dengan ombak yang tenang dan pasir putih yang menghiasi pantai Tanjung Aan.














Dari Tanjung Aan ini, kami menuju Pantai Batu Payung yang terletak tidak jauh Pantai Tanjung Aan dengan menyewa perahu. Inilah cara tercepat menuju Pantai Batu Payung. Terkenal dengan nama Batu Payung karena di pantai tersebut terdapat karang yang besar yang membentuk seperti payung. Selain menyewa perahu, Pantai Batu Payung dapat ditempuh dengan berjalan kaki tapi tentu saja membutuhkan beberapa menit. Berjalan kaki ini hampir saja akan kami lakukan ketika kami akan kembali ke Pantai Tanjung Aan dari Pantai Batu Payung. Hal ini disebabkan karena melihat kondisi ombak yang semakin siang terlihat semakin besar. Namun hal tersebut diurungkan oleh panitia karena sebagian dari kami tidak menggunakan alas kaki karena ditinggal di perahu dan tanah yang kami pijak tentu saja terasa panas tanpa alas kaki. Pantai Batu Payung tidak seperti pantai-pantai di sekelilingnya yang berpasir putih tapi merupakan rangkaian karang-karang. Di Pantai Batu Payung pun kita bisa menikmati keindahan alam sekelilingnya dari atas bukit. 





















Dari Pantai Tanjung Aan perjalanan dilanjutkan ke tujuan berikutnya yaitu Pantai Kuta. Setibanya di Pantai Kuta, kami langsung makan siang dan sedikit pun aku tidak meng-explore pantainya karena tahun lalu aku sudah cukup puas menikmati Pantai Kuta dan siang hari itu panas pun begitu terik membuat kami malas bergerak terlalu jauh.





Dari Pantai Kuta perjalanan dilanjutkan ke Pantai Mawun. Pantai Mawun saat ini menjadi salah satu tujuan favorit di Lombok. Seperti pantai-pantai di Lombok, pantai ini pun berpasir putih dengan pemandangan yang indah, ombak yang tenang, bentuk pantai yang menyerupai tapal kuda yang sedikit melebar akan menarik setiap orang yang mengunjunginya dan mengabadikannya dalam jepretan kamera. Sebelah kanan dan kiri Pantai Mawun diapit oleh bukit-bukit. Dari sebuah blog yang pernah aku baca, jika mau trekking ke atas bukit maka akan didapati sebuah pemandangan yang lebih eksotis. Dari atas bukit tersebut dapat dilihat garis pantai yang berkelak-kelok. Di lokasi ini pun menjadi tempat yang indah untuk mengabadikan sunset. Keindahan pemandangan dari atas bukit ini belum sempat aku lakukan karena terik siang itu yang begitu panas membuat kami hanya sedikit narsis dan duduk di satu spot di pantai Mawun dan memandang keindahan sekelilingnya.









Tujuan berikutnya di trip hari pertama KJJI adalah Desa Sade. Desa Sade merupakan desa wisata di Lombok yang tetap mempertahankan adat suku Sasak dan masih mempertahankan keaslian desa walaupun terletak di pinggir jalan raya yang telah beraspal mulus. Hal ini dapat terlihat dari tembok bangunan yang masih terbuat dari anyaman bambu, beratapkan ijuk dan beralaskan tanah atau plesteran semen. Salah satu keunikan dari Desa Sade adalah penggunan kotoran kerbau sebagai alat untuk membersihkan lantai. Selain itu keunikan lainnya adalah adat pernikahan suku sasak. 

Dalam adat pernikahan suku sasak terdapat istilah kawin culik yaitu calon suami melakukan penculikan terhadap calon istrinya. Tentu saja penculikan ini tetap harus memperhatikan peraturan-peraturan yang telah ditetapkan oleh lembaga adat. Waktu penculikan telah disepakati oleh calon suami dan calon istri namun tidak boleh diketahui oleh orang termasuk orang tua sang mempelai wanita dan tidak boleh dilaksanakan siang hari untuk dibawa menuju kediaman calon mempelai pria. Apabila calon mempelai wanita berhasil diculik maka keluarga mempelai pria akan melakukan upacara adat untuk melakukan penyambutan. Keesokan paginya maka keluarga dari calon mempelai pria akan akan datang ke rumah calon mempelai wanita untuk memberitahukan bahwa anak gadisnya telah dipersunting oleh anaknya. Puncak dari adat perkawinan ini adalah pada saat rombongan keluarga laki-laki mendatangi kediaman mempelai wanita, kedatangan rombongan laki-laki ini disebut dengan Nyongkol. Di Desa Sade pun, kita bisa membeli kain tenun, kaos atau pernak-pernik lainnya sebagai oleh-oleh.










Dari Desa Sade, kami pun kembali ke kota Mataram dan kami langsung melanjutkan untuk makan malam di rumah makan Ayam Taliwang namun aku lupa namanya. Setelah merasakan ayam taliwang di sini, tetap bagiku lebih maknyus rasa ayam taliwang di kedai "Ini baru Taliwang" yang terletak di seberang Hotel Ratih. Akhirnya trip hari pertama dengan teman-teman KJJI pun selesai.

bersambung ke Air Terjun Sendang Gile & Tiu Kelep

Artikel Menarik lainnya
Jalan-jalan ke Bangkok
Indahnya Coban Rondo
Pesona Telaga Sarangan Magetan




KEINDAHAN PANTAI PINK DAN TANJUNG RINGGIT

Yeaaahhhh tahun ini tanpa direncana sedikit pun aku kembali menginjakkan kaki di Pulau Lombok tapi trip kali ini bersama dengan 4 teman kantor dan teman-teman baru dari Komunitas Jalan-Jalan Indonesia (KJJI). Trip ini merupakan acara gathering Komunitas Jalan-Jalan Indonesia yang ke IX. Ini berawal ketika di suatu siang aku membuka facebook dari hp androidku dan kulihat di fanpage KJJI akan mengadakan acara gatheringnya hanya dengan dana Rp.500.000 selama 3 hari 2 malam, tidak termasuk makan pagi dan makan malam dengan meeting point Bandara International Lombok. Kemudian kutunjukkan acara ini ke beberapa teman-teman kantor dan mereka langsung berminat. Sebelum kami mendaftarkan diri, kami melihat harga tiket pesawat dari Jakarta - Lombok pp. Ini penting untuk menghitung keseluruhan biaya yang harus dikeluarkan dalam trip ini mengingat harga tiket pesawat yang cukup mahal. Malam harinya, kami pun sepakat untuk membeli tiket Jakarta - Lombok, komunikasi kami lakukan di group WA dan akhirnya kami membeli tiket GA Lombok - Jakarta dengan promo cicilan 0% selama 6 bulan........yipppiii gak sia-sia malem-malem cek harga tiket. Sedangkan untuk tiket keberangkatan Jakarta - Lombok belum kami beli karena berharap akan ada promo 0% lagi hehehehe. Setelah pegang tiket Lombok - Jakarta keesokan paginya aku langsung mendaftarkan diri ke admin KJJI. Alhamdulillah masih tersisa 10 seat dari target peserta sebanyak 30 orang dan tidak sampai 24 jam trip ini sudah full peserta.

Trip ini berlangsung dari tanggal 16 - 18 oktober 2015. Mengingat ongkos ke Lombok ini yang cukup mahal maka aku bersama 2 orang temanku berencana untuk datang 1 hari lebih awal di Lombok. Hari H pun tiba, kami bertiga berangkat lebih awal dan tiba di Pulau Lombok malam hari.Untuk trip 1 hari ini aku telah menyewa mobil dengan harga Rp.600.000 selama 10 jam dengan tujuan Pantai Pink dan Tanjung Ringgit melalui jalur darat. Harga ini lebih mahal karena jalan yang akan dilalui menuju Pantai Pink rusak. Untuk menuju Pantai Pink bisa melalui jalur laut yaitu dengan menaiki perahu nelayan dari Tanjung Luar. Namun biaya yang dikeluarkan jauh lebih mahal. Jam 06.30 pagi kami dijemput dan melanjutkan perjalanan ke Lombok Timur.


 

Perjalanan dari BIL ke Pantai Pink kurang lebih sekitar 2,5 jam. Selama perjalanan menuju Pantai Pink aku menunggu jalanannya yang dikatakan rusak parah. Dalam pikiranku yang terbayang jalanan yang rusak tersebut seperti perjalananku menuju Pantai Kondang Merak - Malang tapi alhamdulillah jalan menuju Pantai Pink tidak serusak seperti dalam pikiranku. Warna pink yang menghiasi pantai ini disebabkan karena pecahan karang yang terbawa ke daratan. Awalnya nama pantai ini adalah Pantai Tangsi namun kini lebih terkenal dengan nama Pantai Pink. Sesampainya di Pantai Tangsi / Pink, kami pun langsung naik ke bukit untuk menikmati keindahan pantai dari atas bukit.




















Selain kami menikmati keindahan Pantai Pink dari atas bukit, kami pun mencoba untuk snorkeling ke pulau-pulau sekitar Pantai Pink dengan menyewa perahu beserta 3 perlengkapan snorkeling dengan harga 350.000 rupiah. Tujuan pertama adalah Pulau Pink 2, pasir pantai pink 2 terlihat lebih berwarna pink dibandingkan Pantai Pink 1 dan butiran pasirnya yang begitu halus serta beningnya air laut. Aaaaahhhhh.......gak nahan lihat airnya, begitu mendekati pantai langsung kami turun, narsis di pantai, berenang. Sumpah......udah seperti di kolam pribadi dengan pemandangan yg indah bingiiiit.








 
 

 
 
Dari Pantai Pink 2, kami melanjutkan ke tujuan berikutnya, entah itu gili petelu atau bukan tapi ketika kami snorkeling di sana arus bawah lautnya begitu kencang sehingga kami tidak berlama-lama di dalam air. Akhirnya kami pun kembali ke Pantai Pink. Fasilitas tempat mandi untuk membersihkan diri di Pantai Pink sangat tidak memadai, hanya sebuah tempat yang dikelilingi terpal tanpa pintu dan atap serta air bersih pun seadanya, entah darimana pemilik warung tersebut mendapatkan air. Dengan keadaan ini tentu saja kami saling bergantian menjaga teman kami yang sedang mengganti pakaian. Ada kejadian yang menyebalkan saat kami bergantian membersihkan diri, tiba diriku untuk menjaga dan 1 temanku mengganti pakaian tiba-tiba datang seekor anjing yang mendekatiku, tentu saja aku menyingkir sambil teriak-teriak ke temanku bahwa ada anjing yang sepertinya akan masuk ke tempat ganti. Tentu saja temanku langsung panik, untung ibu pemilik warung langsung menghampiriku dan mengusir anjing itu dan menjaga temanku yang masih mengganti pakaiannya.

Dari Pantai Pink kami melanjutkan perjalanan menuju Tanjung Ringgit yang terletak tidak jauh dari Pantai Pink. Pemandangan di Tanjung Ringgit begitu indah, menyajikan tebing-tebing eksotis yang berbatasan langsung dengan laut lepas Samudera Hindia. Di Tanjung Ringgit ini pun aku melihat sebuah meriam zaman peperangan, entah ini peninggalan Jepang atau Belanda.









Puas di Tanjung Ringgit, kami pun melanjutkan perjalanan ke Pantai Cemara. Kira-kira perjalanan sekitar 40 menit dari Tanjung Ringgit.





 

Waktu sudah semakin sore dan kami pun harus segera kembali ke penginapan karena batas penyewaan mobil hanya 10 jam dan selebihnya kami dikenakan overtime. Kami bertiga pun tiba di penginapan yaitu hotel cendrawasih yang terletak di kota Mataram. Malam harinya, aku pun langsung mengajak kedua temanku untuk makan ayam taliwang di warung tenda "Ini baru Taliwang" yang terletak di seberang Hotel Ratih dan hanya beberapa meter dari Hotel Cendrawasih. Rasa ayam taliwang di "Ini baru Taliwang" memang maknyuss, bumbunya sangat meresap, ini juga salah satu alasan yang menyebabkan aku ingin datang lagi ke Lombok. 



Artikel menarik lainnya