KEBERSAMAAN DI CAMP HULU CAI DI CIAWI - BOGOR

Tanggal 15 Agustus 2016, aku mulai kembali melakukan aktivitas di kantor setelah kemarin ngebolang ke negeri orang bersama beberapa teman. Di kantor pun tambah bahagia ketika diberitahu oleh teman bahwa tgl 18 - 19 Agustus ada acara SOJ (sharing of joy) dari divisi kami. Jadi kerja baru 2 hari kemudian lanjut jelong-jelong lagi....yuhuuuu.

Camp Hulu Cai merupakan salah satu tujuan wisata yang bernuansa alam yang memiliki pilihan menginap seperti kamar-kamar layaknya hotel ataupun menginap dalam tenda alias camping. Camp Hulu Cai terletak di wilayah Ciawi - Bogor. Di tempat ini juga tersedia outbond dan area agro. 




















ARASHIYAMA DAN FUSHIMI INARI - TRIP MURAH KEJEPANG

Cerita sebelumnya Kiyomizudera Temple

Hari ini adalah hari ke enam kami di negeri sakura dan hari kedua di Kyoto. Alhamdulillah, sarapan pagi ini ditemani oleh telur dadar, nasi putih, mie rebus instant dan segelas milo dan tentu saja semua ini dimasak sendiri di dapur hostel terkecuali untuk nasi. Kami membeli nasi semalam di supermarket dengan harga sekitar 300 yen. Kalau untuk aku, porsi nasi ini bisa buat makan 2x. 

Tujuan berikutnya adalah Arashiyama, untuk menuju tempat wisata ini cara tercepat adalah dengan kereta JR dengan tujuan Saga-Arashiyama dengan tiket seharga 240 yen dengan waktu sekitar 20 menit. Dari stasiun Saga Arashiyama, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju Togetsukyo Bridge sekitar 15-20 menit. 



















Dari Togetdukyo Bridge, kami berjalan lagi menuju Bamboo Groove. Ketika perjalanan menuju Bamboo Groove, kami bertemu dengan wanita yang berdandan lengkap seperti Geisha dan ia didampingi oleh beberapa wanita. Kami juga tidak tahu, apakah ini geisha asli atau bukan atau hanya seorang model yang akan melakukan pemotretan tapi kami pun tidak berani meminta mereka untuk berhenti dan berfoto bersama, hanya teman-temanku yang berusaha untuk bisa wefi tanpa harus memberhentikan mereka.















Setelah berpanas-panas ria keliling Arashiyama, kami pun kembali ke Kyoto dan melanjutkan perjalanan ke Fushimi Inari. Fushimi Inari merupakan salah satu destinasi wisata di Kyoto yang sangat terkenal sehingga ketika kami berkunjung ke sana, tempat ini ramai oleh wisatawan, sama seperti Arashiyama Bamboo Groove. Fushimi Inari merupakan kuil pusat dari seluruh kuil Inari di seluruh Jepang yang di bangun untuk melakukan penghormatan atau pemujaan kepada Inari (Dewa Padi) ciri-cirinya ditandai dengan tori merah dan patung rubah putih. Kuil ini terdapat di puncak gunung, untuk dapat sampai di kuil dibutuhkan waktu mendaki antara 2 - 3 jam lamanya. Ketika mendaki sekitar 30 - 45 menit maka akan bertemu dengan Yotsutsuji Intersection, di sini wisatawan dapat menikmati kota Kyoto dari ketinggian.










Waktu sudah menunjukkan semakin sore, kami pun kembali ke Kyoto dan memutuskan untuk mencari masjid di Kyoto. Berdasarkan google map kami pun menemukannya walau pun tempat tersebut tidak berbentuk masjid melainkan di sebuah bangunan seperti Ruko dan bertuliskan Islamic Culture Centre. Masjidnya sendiri terletak di basement dari gedung Islamic Culture Centre. Masjid ini berlokasi di Riverside Kojinguchi 1F, 92, Miyagaki-cho, Kawaramachi Kojinguchi-Agaru, Kamigyo-ku, Kyoto-shi, Kyoto, Japan.
Tel +81-(0)75-231-3499, Fax +81-(0)75-231-3497. Akses menuju masjid ini, 6 menit jalan kaki dari stasiun Jingu Marutamachi (Keihan Railway) dan 2 menit jalan kaki dari halte bus Kojinguchi.




Seharian ini kami hanya makan berbekal onigiri maka selesai shalat kami pun kembali ke stasiun Kyoto dan berusaha mencari tempat makan halal. Sebenarnya di dekat Islamic Cultural Centre ada restaurant halal tapi sepertinya masakan arab sehingga kami memutuskan mencari tempat lain, mencari makanan khas Jepang yang halal. Berawal mencari di mbah google tempat makanan halal dan bertanya pada seorang ibu yang berasal dari Indonesia kami pun menuju food court yang terletak tidak jauh dari stasiun Kyoto yang terletak di Basement. Sempat berputar-putar di lokasi ini mencari tempat makan seperti yang diinfokan oleh sang ibu namun kami tidak juga menemukan sepertinya ada yang misskomunikasi dengan informan. Namun disaat kami sudah tidak ada harapan untuk menemukan makanan halal, akhirnya salah satu teman kami melihat tempat makan yang bertuliskan "Moslem Friendly", tentu saja kami langsung masuk dan waiting list karena tempatnya memang kecil dan penuh. Ketika sang pelayan memberikan menu dan aku menunjuk satu menu, sang pelayan mengatakan bahwa dalam paket ini ada minuman sake dan beliau menunjukkan gambar di menu dan akan menggantinya dengan salad. Beliau juga memberitahu agar tidak memakan saus-saus di dalam mangkuk-mangkuk kecil yang terdapat di atas meja karena mengandung alkohol. Senang dan tentu merasa aman makan di sini, sesuai dengan tulisan yang terpampang di depan restauran. 








Malam ini waktunya packing karena besok pagi kami harus sudah check out dari penginapan dan kembali ke negara tercinta.




BUKIT JADDIH DAN BUKIT PELALANGAN

Cerita sebelumnya  Pulau Tabuhan dan Pulau Menjangan

Shubuh dini hari, kereta Mutiara Malam pun tiba di stasiun Gubeng. Tempat yang dituju berikutnya adalah musholla dan toilet. Sekitar jam 6 pagi, kami pun pergi meninggalkan stasiun Gubeng menuju Bukit Jaddih. Bukit Jaddih merupakan lokasi penambangan kapur yang masih aktif saat kami berkunjung ke sana sehingga dibutuhkan kehati-hatian ketika disana. Bukit Jaddih ini terletak di Desa Jaddih kecamatan Socah kabupaten Bangkalan Madura. Namun saat kami berkunjung ke sana jalan yang kami lalui cukup rusak. Kendaraan yang tepat untuk digunakan berkunjung ke Bukit Jaddih adalah motor atau mobil karena jalan yang dilalui cukup sempit apalagi pada saat harus naik ke atas bukit, cukup menegangkan bagi kami.

Sekitar jam 7 pagi, kami tiba di Bukit Jaddih ditemani dengan mentari pagi yang terasa begitu terik, kami mulai explore Bukit Jaddih. Hasil penambangan atau kerukan memunculkan pahatan-pahatan yang indah, inilah yang banyak disebut orang sebagai luka alam yang indah. Di Bukit Jaddih ini terdapat kolam renang yang airnya bersumber dari mata air. Kami hanya memandangnya dari puncak Bukit yang berwarna hijau. Teriknya sinar matahari pagi membuat kami ingin segera meninggalkan Bukit Jaddih.













Dari Bukit Jaddih, kami menuju ke tempat berikutnya yaitu Bukit Pelalangan atau dikenal juga dengan nama Bukit Arosbaya namun kami mampir dulu ke Bebek Sinjay yang sangat terkenal untuk sarapan pagi. Berhubung kami datang pagi hari maka belum ada antrian panjang, yang kami sayangkan pelayanan di sini adalah antrian yang berbeda untuk makanan dan minuman. 

Bukit Pelalangan ini terletak di Desa Berbeluk Kecamatan Arosbaya Kabupaten Bangkalan. Akses menuju Bukit Pelalangan tergolong cukup mudah karena dekat dengan situs religi makam para Raja Bangkalan "Air Mata Ibu".Bukit Pelalangan ini juga merupakan bekas penambangan bukit kapur seperti halnya Bukit Jaddih. Setibanya di areal makam Air Mata Ibu, kami pun berganti kendaraan karena elf kami tidak diperbolehkan melewati jalan kecil menuju Bukit Pelalangan. Memang jalan kecil tersebut hanya cukup untuk 1 mobil dan kami pun ditawari ojek dengan biaya yang lumayan mahal bagi kami. Akhirnya kami pun memilih mobil pick up dengan harga yang lebih murah jika dihitung per orang daripada ojek walaupun hanya kami berempat yang ingin tetap meng-eksplore Bukit Pelalangan karena yang lain malas berpanas-panas ria. Panasnya Pulau Madura lebih panas dari Jakarta, untung di Bukit pelalangan tidak sepanas di Bukit Jaddih , mungkin karena letak bukit-bukitnya yang berdekatan sehingga sedikit menghalangi sinar matahari. 















Dari Bukit Pelalangan, kami pun kembali ke Surabaya, untuk mencari oleh-oleh. Salah satu tempat yang wajib dikunjungi jika datang ke Surabaya adalah sambal bu Rudy, sambal yang selalu bikin nagih walaupun rasanya pedeesss abisss.....ah...jangan pengen. Trip kali ini pun berakhir di sini kemudian kami diantar ke Bandara Juanda walaupun jam penerbangan kami masih lama namun waktu yang senggang ini kami gunakan untuk beristirahat di Masjid Bandara Juanda.