LIBURAN KE CIREBON

Hari Pertama, 10 November 2017

Keinginan untuk jalan-jalan terbersit begitu saja dalam hati. Ku lempar keinginan ke teman-teman dan responnya positif. Terkadang perjalanan yang tak direncanakan bisa langsung terwujud sedangkan yang direncana malah molor. Kami pun pergi selepas pulang kantor dari stasiun gambir pada tanggal 10 Nov 2017 dengan naik Cirebon express dengan jam keberangkatan 22.30. Dari kantor kami yang terletak di BSD, kami naik kereta dari stasiun Rawa Buntu turun di Tanah Abang, lanjut naik kereta yang berhenti di stasiun Manggarai kemudian lanjut naik kereta yang berhenti di stasiun Gondangdia. Dari Gondangdia lanjut dengan ojek atau bajaj ke stasiun Gambir.
Sekitar jam 7 malam lebih, kami telah tiba di stasiun gambir. 

Kami tiba lebih awal karena ingin mengurus tiket pembatalan teman dan ternyata nomor antrian telah habis. Di depan loket 9 dan 10 yang merupakan loket pembatalan, kami langsung saja maju karena ada tulisan bagi yang akan membatalkan 60 menit sebelum keberangkatan diperbolehkan tanpa nomor antrian. Namun setelah komunikasi dengan sang petugas, kami belum diperbolehkan dan kami harus menunggu 1 jam sebelum keberangkatan. Dalam waktu penantian, beberapa kali nomor antrian yang dipanggil tidak muncul, mungkin mereka lelah dan berpikir jam berapa mereka akan dipanggil padahal waktu semakin larut. Setelah nomor antrian habis, petugas mempersilahkan kami yang tidak memiliki nomor untuk antri di loket. Dengan sigap kami pun maju, alhamdulillah proses pembatalan dan perubahan jadwal kepulangan temanku selesai.

Kereta Cirebon express pun tiba dan kami siap untuk memulai perjalanan ini. Kami tiba di stasiun Cirebon jam 01.30 dinihari dan kami dijemput oleh pihak hotel dengan biaya gratis, hanya sedikit uang rokok karena lokasi yang sangat dekat sekali dengan stasiun Cirebon Kejaksan. Jika bukan waktu dinihari, kami tentunya memilih untuk berjalan kaki. Sesampainya di hotel, kami langsung bersih-bersih dan tidur. 


Hari Kedua, 11 November 2017

Hari kedua di Cirebon diawali dengan malas bangun pagi, yeahhh masih mau bobo. Sekitar jam 8 pagi baru kami menuju restauran hotel untuk sarapan pagi. Menu sarapan pagi, ada roti, soto ayam, bubur ayam, nasi putih dengan lauk ayam kecap, sayur tumis, mie goreng. Untuk hidangan penutup ada buah semangka, tahu gejrot dan puding. Senangnya kalau dapat hotel bintang dua dengan harga promo.










Tujuan hari ini adalah ke goa sunyaragi.  Goa Sunyaragi merupakan salah satu cagar budaya dengan luas sekitar 15 hektar yang berlokasi di Desa Sunyaragi, Kesambi, Cirebon. Goa Sunyaragi ini kadang biasa disebut juga dengan Taman Air Sunyaragi atau Taman Sari Sunyaragi. Sunyaragi berasal dari kata "Sunya" yang berarti sepi dan "Ragi" yang berarti raga. Tujuan didirikannya tempat tersebut adalah sebagai tempat meditasi dan peristirahatan para sultan Cirebon dan keluarganya. Sabtu siang itu cukup banyak pengunjung yang berada di goa Sunyaragi dan cuaca di kota Cirebon begitu panas.


















Dari Goa Sunyaragi perjalanan dilanjutkan ke Empal Gentong H Apud yang terletak di Jalan Tuparev. Menu yang kami pesan adalah 2 porsi empal gentong, 1 porsi empal asem, 15 tusuk sate kambing, 2 gelas es kelapa muda dan 1 gelas es jeruk denga total harga kurang lebih 185.000 ribu rupiah. Untuk rasa lebih enak empal gentong dibandingkan empal asemnya. Jika tidak ingin yang bersantan maka empal asem pilihannya.




Setelah perut terisi kenyang, aktivitas berikutnya adalah ke Pusat Sentra Batik Trusmi, sekedar lihat-lihat harga jika ada yang cocok. Selain cari batik, di sini bisa juga belanja oleh-oleh khas cirebon berupa makanan. Lelah muter-muter di sini, kami pun melanjutkan ke Masjid Panjunan atau Masjid Merah. Masjid Merah ini terletak di kampung Panjunan. Masjid ini dahulunya bernama Musholla Al Athya namun karena pagarnya terbuat dari batu bata merah maka masjid terkenal dengan nama Masjid Merah Panjunan. Masjid ini didirikan pada tahun 1480 oleh Syarif Abdurahman atau Pangeran Panjunan. Ia adalah seorang keturunan arab yang memimpin sekelompok imigran dari Bagdad dan kemudian ia menjadi murid dari Sunan Gunung Jati. Kami pun berkesempatan untuk melaksanakan shalat ashar di masjid ini. Di dekat lokasi masjid ini terdapat mie koclok yang terkenal yaitu Mie koclok panjunan, kuah mie koclok ini kental dan porsinya cukup besar dengan harga yang murah. Berhubung perut kami bertiga sebenarnya sudah cukup penuh maka kami hanya pesan 1 porsi untuk dimakan bertiga (antara irit atau pelit) hahahaha......




Mie koclok Panjunan

Sore itu, kami pun kembali ke penginapan untuk istirahat dan malam harinya kami jalan-jalan ke alun-alun keraton kesepuhan yang sedang ada acara Grebek Mulud dan yang mengesankan dari perjalanan ini adalah naik becak bertiga dari hotel ke alun-alun kesepuhan karena kebetulan di luar hotel hanya ada 1 becak yang sedang parkir (antara pelit atau irit) hahahaha.......Acara Grebek Mulud ini diadakan oleh keraton kesepuhan sejak akhir Oktober sampai dengan awal Desember. Dari pasar malam ini, kami melanjutkan mencari kuliner dan akhirnya diputuskan untuk mencoba Nasi Jamblang Mang Dul yang terletak di sebrang Grage Mall. Selain nasi jamblang kami pun makan es duren yang ada di luar warung makan kemudian kami melanjutkan keliling Grage Mall.

Nasi Jamblang

Hari Ketiga, 12 November 2017,

Pagi ini, salah satu teman kami harus kembali ke Jakarta sehubungan adanya acara keluarga maka tinggal kami berdua yang akan muter-muter Cirebon. Sarapan pagi ini di hotel, aku mencoba Docang, salah satu makanan khas Cirebon dan menurutku agak sedikit aneh campurannya yaitu lontong, toge, daun singkong, taburan kelapa parut dan kuah. Untuk kuah rasanya enak dan segar. Setelah sarapan, kami pun mencoba keluar hotel karena adanya hari bebas kendaraan, tepat di depan hotel kami. Sayangnya, kami tidak membawa uang ketika jalan-jalan di car free day ini dan malas untuk kembali ke hotel sehingga tidak ada apapun yang kami beli (antara irit atau pelit) hahahaha.......


 Docang





Kami bertemu dengan komunitas yang memelihara hewan seperti tersebut di gambar di atas tapi lupa nama hewan ini. Kami pun kembali ke hotel untuk bersih-bersih dan melanjutkan penjelajahan kami berikutnya adalah Taman Ade Irma Suryani. Namun fakta berbeda dengan rencana, ketika kami telah sampai di depan, kami melihat harga tiket masuk yang cukup mahal dan langit yang begitu terik. Akhirnya kami pun langsung menuju rumah makan klapa manis yang terletak di Bukit Gronggongan. Jarak yang ditempuh lumayan jauh sekitar lebih dari 30 menit menggunakan taxi online. 

Dari Klapa Manis perjalanan dilanjutkan ke Masjid Agung Kesepuhan atau Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Masjid ini didirikan pada tahun 1480 M pada masa wali songo dan menjadi masjid tertua di Cirebon. Konon pembangunan masjid ini melibatkan lima ratus orang, selain dari Cirebon juga melibatkan Majapahit dan Demak. Dalam pembangunannya Sunan Gunung Jati menunjuk Sunan Kalijaga untuk menjadi arsiteknya. Selain itu, Sunan Gunung Jati juga melibatkan Raden Sepat, arsitek majapahit yang menjadi tawanan perang Demak - Majapahit untuk membantu Sunan Kalijaga. Dahulu masjid ini memiliki kemuncak atap atau memolo namun pada saat azan pitu salat subuh untuk mengusir aji Menjangan Wulung, kubah tersebut pindah ke Masjid Agung banten yang sampai sekarang masih memiliki dua kubah. Berdasarkan cerita tersebut, sampai sekarang masih di gelar azan pitu yaitu azan yang dilakukan oleh tujuh orang yang berseragam putih secara bersamaan di Masjid Agung Cipta Rasa.






MAIN SALJU DI ULUDAG BURSA - TRIP HEMAT KE TURKI

12 Februari 2018

Hari ini bukanlah hari pertama kami di Turki tapi entah kenapa tangan ini ingin menulis cerita ini terlebih dahulu. Kami sudah janji ketemuan dengan guide jam 8 di taksim meydan walaupun akhirnya molor sedikitlah. Tujuan hari ini adalah ke gunung Uludag - bursa, ceritanya mau main salju...hehehe....gaya banget dah. Dari taksim kami naik furnicular lanjut tram dengan pemberhentian stasiun Sirkeci bisa juga turun di stasiun Eminonu. Kemudian perjalanan dilanjutkan dengan dengan naik ferry BUDO (Bursa Deniz Otobusleri) dengan harga tiket 29 TL yang dibeli di dermaga Eminonu dengan jam keberangkatan jam 10.45. Berhubung masih 1,5 jam lagi keberangkatan ferrynya, kami diajak jalan-jalan ke spice bazar dulu yang letaknya hanya berseberangan dengan stasiun Eminonu. Pagi ini cuaca sedikit mendung dan sempat juga turun hujan walaupun hanya gerimis. Kami pun sempat membeli roti simit sebagai pengganjal perut walaupun sebelumnya sudah sarapan dengan xxxxmie.



Dermaga Eminonu


Tiket ferry BUDO

Perjalanan menuju bursa dengan ferry memakan waktu kurang lebih sekitar 2 jam dan kami nikmati dengan tidur pulas karena kapal ferry BUDO sangat nyaman. Setibanya di dermaga Mudanya - Bursa, transportasi selanjutnya adalah bis dengan no F3. Untuk naik bis ini harus beli tiket dahulu dengan harga 8 TL  dan tempat pembeliannya ada di seberang dermaga. Tiket diberikan dalam bentuk kartu dan kartu ini di tap di dalam bis ketika naik. Mesin tap ini berbentuk monitor kecil. Dari dermaga Mudanya membutuhkan perjalanan sekitar 1 jam ke Teleferik - Bursa. Untuk bis dari dermaga Mudanya menyesuaikan jadwal dari ferry. Bis F3 akan berhenti langsung di depan Teleferik - Bursa. Untuk naik teleferik biayanya adalah 57 TL sampai ke pos pemberhentian ke 3 jika ingin bermain ski sedangkan pos pemberhentian ke 2 tidak bisa digunakan untuk bermain ski, di pos ini pengunjung hanya bisa untuk berfoto ria dan tiket ini tidak boleh hilang sampai keluar dari Teleferik kembali.


di dalam kapal ferry

Tiket bis dari Dermaga Mudanya ke Teleferik


Tiket naik Teleferik dan sekaligus gunung Uludag


Sebelum masuk ke teleferik, kami mengisi perut dahulu di cafe yang dekat dengan pintu masuk. Cafe ini sepi sekali karena memang jam buka biasanya adalah sore sehingga makanan yang tersedia pun hanya beberapa menu. Kami memesan 1 porsi kentang goreng dan ternyata ini porsi besar, 3 martabak, 2 roti panggang (lupa namanya) yang isinya kalau tidak salah adalah pepperoni dan beberapa gelas teh dan 1 air mineral dengan jumlah total 71 TL. Tujuan awal kami ke sini adalah main ski tapi berhubung suhu yang sangat dingin dan waktu juga sudah terlalu sore karena kami masuk ke Teleferik sekitar jam 14.30, cukuplah bagi kami berfoto saja. Saat berfoto ria tak terasa turun hujan salju, kami pun masuk ke cafe untuk menghangatkan tubuh dan sekedar minum segelas cay (teh) dengan harga 6 TL per gelas.
























Waktu sudah semakin sore, kami pun harus kembali ke istanbul. Kami harus mengejar ferry Budo jam 19.00 namun apadaya bis F3 yang kami tunggu-tunggu tidak datang jua, entah terjebak macet atau memang sudah lewat. Berdasarkan info yang didapat oleh guide kami dari seseorang yang menjual tiket bahwa bis F3 untuk jadwal terakhir belum datang. Akhirnya perjalanan kami lanjutkan dengan turun naik bis dengan membeli Bursa card dengan harga 48 TL dengan tujuan terminal ferry IDO (Istanbul Deniz Otobusleri) yaitu Guzelyali dan berakhir di dermaga Yenikapi - Istanbul dengan jadwal keberangkatan jam 21.00. Tiket IDO ini, kami beli dengan harga 28 TL.




Tiket kapal ferry IDO 


Jadwal kapal ferry IDO

Kepulangan kami ke Istanbul tanpa ditemani sang guide namun kami diberi petunjuk setelah tiba di dermaga Yenikapi menuju metro Yenikapi. Dari metro yenikapi naik metro dengan tujuan akhir Haciosman (dibaca Hajiosman) dan turun di Taksim. Ketika kami menunggu kereta di metro yenikapi sempat deg-degan juga karena stasiun yenikapi terlihat sepi namun beberapa menit kemudian akhirnya metro yenikapi juga ramai oleh para calon penumpang. Beruntungnya menginap di Taksim adalah walaupun tiba di Taksim sekitar tengah malam namun tidak terasa sudah tengah malam karena memang taksim salah satu area yang ramai oleh orang-orang sampai larut malam.

PANORAMA CANTIK UMBUL SIDOMUKTI UNGARAN

Cuaca yang tidak begitu panas menemani kami pergi ke terminal bis untuk membeli tiket bis raya jurusan solo walaupun tujuan kami sebenarnya adalah Semarang. Cukup 1 tiket yang kami beli karena satunya lagi ini dapatkan dari hasil menukar 15 tiket yang telah kami kumpulkan selama 1 tahun lamanya. Bulan Februari 2017 ini, batas terakhir kami untuk bisa menukar tiket maka tanpa rencana apa pun, kami memutuskan untuk refreshing sejenak ke Semarang. Perjalanan pun di mulai dari terminal Pondok Cabe sekitar jam 4 sore. Walaupun tujuan kami adalah Semarang, kami memutuskan untuk turun di Salatiga karena waktu yang masih begitu malam jika kami harus turun di Semarang. Kami habiskan pagi dinihari itu di terminal Tingkir kemudian lanjut mampir ke Desa Suruh sekedar bersilaturahmi dengan keluarga dan bersih-bersih. 

Sekitar jam 10.00, kami pun melanjutkan perjalanan menuju Semarang dan tiba di Semarang sore hari. Setelah check in di penginapan yang terletak di jalan Pandanaran, kami pun segera mengambil motor sewaan yang terletak di sekitar kantor pajak pratama Semarang. Dilanjutkan dengan mencari makan karena perut kami yang sudah berdangdut ria,muter-muter cari makanan, akhirnya pilihan jatuh ke rumah makan Padang #huffttt. Sedangkan malam harinya kami mencoba Es Puter Cong Lik yang terkenal di Semarang kemudian dilanjutkan muter-muter kota Semarang sampai ke sudut-sudut kota yang sepi. Lelah pun menerpa dan kami putuskan untuk kembali ke penginapan.

Hari kedua di Semarang, kami putuskan untuk pergi ke Ungaran. Dalam perjalanan hujan pun turun sehingga mengharuskan kami untuk berteduh. Perjalanan pun dilanjutkan walaupun hujan rintik-rintik menyertai perjalanan ini. Tempat wisata yang kami tuju di Ungaran ini adalah Tempat wisata Umbul Sidomukti. Jalur menuju Umbul Sidomukti masih satu jalur dengan Candi Gedong Songo kemudian akan ada petunjuk untuk berbelok ke kanan yang mengarah ke Umbul Sidomukti. Jalan menuju Umbul Sidomukti terus menanjak dan hawa dingin mulai menyusup ke tubuh. 

Umbul Sidomukti terletak di lereng gunung ungaran  sekitar 1200 mdpl yang diapit oleh dua buah jurang. Tiket masuk wisata Umbul Sidomukti 10.000/org untuk hari sabtu, minggu dan tanggal merah sedangkan hari biasa 5.000 rupiah. Di tempat ini terdapat kolam renang yang bertingkat yang memiliki pemandangan cantik. Namun untuk masuk ke kolam renang ini akan ada tiket masuk lagi. Awalnya aku ingin masuk sekedar untuk mengambil foto tapi melihat pengunjung yang ramai maka aku batalkan dan aku putuskan untuk ke Pondok Kopi Sidomukti. Pondok Kopi ini adalah seperti sebuah kafe namun sepertinya kopi yang disajikan tidak memiliki citra rasa tersendiri dan makanan yang dijual pun terasa biasa saja, hanya pemandangannya yang luar biasa. Hari sudah menunjukkan siang dan sesekali hujan turun sehingga hawa dingin terus menusuk tubuh ditambah tiupan angin yang terkadang kencang. Ketika langit cerah, kami pun segera meninggalkan area Umbul Sidomukti. Selain kolam renang, Pondok Kopi masih ada beberapa tempat wisata di sana seperti outbond dan penginapan.